Foto : Ilustrasi
INILAH.COM, Padang - Enam kepala daerah tingkat kota dan
kabupaten di Sumatera Barat (Sumbar) menerima penghargaan sebagai
kepala daerah penyelenggara pendidikan terbaik.
Perhargaan
tersebut diserahkan oleh gubernur yang diwakili Sekretaris Daerah
Provinsi Sumbar, Ali Asmar, Kamis (27/12/2012) di gubernuran.
Penghargaan diserahkan dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional dan
HUT PGRI ke-67 tahun 2012.
Pemberian penghargaan ini, didasarkan jumlah siswa yang diterima di perguruan tinggi (PT) dan
dibagi atas dua kategori yaitu kota dan kabupaten. Untuk kategori kota, Walikota Bukittinggi Ismet Amzis
meraih
peringkat pertama, diikuti Walikota Padang Fauzi Bahar dan Walikota
Payakumbuh Riza Falepi. Untuk kategori kabupaten, peringkat pertama
diraih Bupati Kabupaten Tanah Datar M Shadiq Pasadigoe, dan Bupati
Kabupaten Solok Syamsu Rahim.
Sekdaprov Sumbar, Ali Asmar,
menyatakan untuk ke depan, prestasi antara jumlah siswa yang diterima di
PT dan prestasi UN diharapkan seimbang. Tahun 2011, peringkat Sumbar
untuk SNMPTN berada di rangking 7 nasional, sedangkan prestasi UN berada
di rangking 23 nasional.
Kepala Dinas Pendidikan Sumbar,
Syamsulrizal, mengatakan upaya peningkatan mutu guru di Sumbar hanya
mencapai 5 persen dari sekitar 89 ribu guru yang ada. Ke depan
masing-masing kabupaten dan kota harus lebih memperhatikan peningkatan
mutu guru.
Selain itu sumber-sumber belajar lainnya, seperti
perpustakaan, labor, dan sarana lainnya masih sangat membutuhkan
perhatian kepala daerah untuk menciptakan kondisi pendidikan yang lebih
baik.
Untuk peningkatan kualitas guru, tahun 2013, Dinas
Pendidikan Sumbar telah menganggarkan Rp25 juta per masing-masing kota
dan kabupaten di Sumbar bagi kegiatan peningkatan guru mata pelajaran
yang di UN-kan. Diharapkan melalui kegiatan Musyawarah Guru Mata
Pelajaran (MGMP), kompetensi guru semakin meningkat dan memperbaiki mutu
pendidikan siswa didiknya.
Mengingat masih sedikitnya sekolah
yang terakreditasi di Sumbar, Disdik Sumbar pun menganggarkan Rp518 juta
untuk akreditasi sekolah. Masing-masing sekolah akan mendapatkan Rp3
juta.
“Saat ini hanya 49 persen sekolah yang sudah terakreditasi.
Sementara akhir tahun 2014, persoalan akreditasi sekolah sudah harus
selesai. Karena ke depannya, sekolah yang belum memiliki akreditasi,
tidak akan diikutsertakan dalam UN,” jelasnya.
Walikota
Bukitinggi, Ismet Amzis, mengatakan dengan pola maju bersama yang
disepakati antara walikota, kepala dinas pendidikan, dan guru, secara
berturut-turut Kota Bukittinggi selalu terdepan meraih prestasi di
bidang pendidikan. Jumlah siswa dari sekolah di Bukittinggi yang
diterima di PT tahun 2012 sebanyak 1.388 orang.
“Dengan pola maju
bersama ini, tidak ada perbedaan antara sekolah swasta dan negeri.
Adanya penghargaan ini, membuktikan Kota Bukittinggi sudah semakin baik
mengelola dunia pendidikan,” ujarnya.
Untuk dunia pendidikan,
dikatakan Ismet, pemerintah Kota Bukittinggi sudah menjadikan ini
sebagai bagian yang tidak boleh diabaikan. Dalam APBD 2013, anggaran
pendidikan sudah mendekati 40 persen, jauh melebihi amanat
undang-undang.
Sedangkan untuk pemberian beasiswa bagi siswa
kurang mampu, sudah diberikan untuk 700 orang. Sementara tahun
sebelumnya, 2011, jumlah penerima beasiswa mencapai 2.000 orang.
Bagi
guru dan tenaga pendidik lainnya, juga diberikan kesempatan
menyelesaikan studi sampai jenjang S2. “Semuanya dibiayai oleh Pemko
Bukittinggi,” jelasnya.
Terkait peringkat UN, Bukittinggi pun
berhasil mempertahankan predikat kelulusan terbaik selama 10 tahun
belakangan ini untuk tingkat SMA/MA. Kemudian juga prestasi terbaik
tingkat SMK pada tahun 2012.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Padang,
Indang Dewata menyebutkan, meskipun Kota Padang belum berada di posisi
pertama, ini merupakan langkah awal mulai membaiknya pendidikan di kota
bengkuang. Sejauh ini, siswa tamatan yang berasal dari kota Padang sudah
banyak yang masuk perguruan tinggi, namun belum sebagian besar masuk
perguruan tingi favorit.
Dalam penilaian ini, jumlah siswa yang
masuk perguruan tinggi dibedakan berdasarkan zona perguruan tinggi.
Untuk zona satu seperti perguruan tinggi di luar negeri, ITB, UI, UGM,
dan lainnya mendapatkan bobot 4. Sedangkan untuk perguruan tinggi swasta
yang tidak terkenal akan berada pada zona 4 dengan bobot 1. Semakin
banyak siswa yang masuk dalam PT zona 1, semakin banyak nilai terhadap
kepala daerah sebagai penyelenggara pendidikan.
Selain memberikan
penghargaan kepada kepala daerah, juga diberikan penghargaan kepada
kepala sekolah dan guru-guru berprestasi di tingkat nasional. Sebanyak
16 kepala sekolah di Sumbar mendapatkan penghargaan sebagai pengelola
pendidikan terbaik di lingkungan sekolah. Kemudian, sebanyak 8 orang
guru berprestasi di berbagai daerah juga meraih penghargaan. Salah
satunya, Marjohan guru berprestasi di tingkat nasional asal Batusangkar.
[gus]